Pangkalan Para ex. Siswa SMPN 6 Babatan Bandung Angkt. '65

-

Anak "Kereta Api"

Bila mengingat sekian puluh tahun yang lalu, ketika aku bersekolah di SMP Negeri 6 Bandung ada beberapa kenangan yang masih melekat baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Namun kenangan yang manis akan selalu terbawa dan akan diingat selama hidup.
Nah, dalam cerita ini aku yang saat itu masih tinggal di Perumahan Kompleks PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api atau PT KAI sekarang) di Jalan Garuda (jalan Nurtanio sekarang) bila berangkat atau pulang sekolah sesekali menggunakan jasa Kereta Api selain naik sepeda atau jalan kaki. Bila berangkat sekolah, aku naik kereta api dari stasiun Andir dan turun di Stasiun Bandung demikian pula kalau pulang sekolah ke arah sebaliknya dari Stasiun Bandung ke stasiun Andir.
Sarana transportasi ini aku gunakan ketika aku kelas 1 dan kelas 2 karena kebetulan saat itu aku bersekolah di Jalan Kebon Jati yang sekolahnya bersatu dengan SMEP x?. (Saat itu, SMP Negeri 6 Bandung ada dua lokasi, satu lokasi di Jalan Kebon Jati terdiri dari empat ruangan kelas untuk kelas 1 dan dua ruangan kelas untuk kelas 2 dan lokasi satu lagi ada di jalan Haji Yakub Babatan yang terdiri dari 2 ruangan kelas untuk kelas 2 dan 4 ruangan kelas untuk kelas tiga).
Ketika masih kelas satu, kebetulan juga ada dua teman yang juga menggunakan jasa Kereta Api sebagai sarana angkutan ke sekolah pulang pergi. Yang satu menggunakan jasa KA jurusan Bandung - Ciwidey (sekarang sudah tidak beroperasi lagi), kemudian yang satu lagi menggunakan KA jurusan Bandung - Cicalengka sedangkan aku menggunakan KA jurusan Bandung - Padalarang.
Walaupun kami menggunakan KA yang berbeda tapi kami kalau pulang sekolah akan selalu bersama untuk menuju stasiun Bandung. Aku masih ingat kalau pulang sekolah masih pagi sekitar jam 10 an (apabila ada pelajaran bebas), kami ke Stasiun Bandung menunggu kedatangan KA masing-masing yang jadwalnya berbeda dan frekwensi KA nya tidak sepadat sekarang karena kami bisa menunggu ber jam-jam di stasiun. Untuk mengisi kejenuhan biasanya kami sering ikut naik KA yang sedang langsir di stasiun Bandung tersebut, bisa ikut naik yang langsir ke arah Barat atau ke arah Timur.
Masih terkenang "kenakalan" kami kalau di stasiun Bandung, yaitu ketika KA Banjar - Bandung sampai ke Stasiun Bandung. KA ini sebenarnya KA penumpang biasa, tetapi biasanya mengangkut segala macam hasil bumi yang diangkut dari Jawa Barat sebelah timur seperti beras, gula, kelapa dan lain-lainnya. Nah disinilah "keisengan" kami muncul kalau KA ini datang, ketika muatan hasil bumi diturunkan ke peron stasiun, kami bertiga (kadang berdua) jalan-jalan mencari bungkus muatan yang terbuka (hasil bumi ini biasanya hanya dibungkus menggunakan karung goni bekas) dan bila menemukan yang terbuka dan bisa "dijailin" kami biasanya mengambil sedikit untuk dimakan saat itu misalnya gula aren atau kedondong atau apa saja yang bisa dimakan saat itu. Maklum saat itu kalau sekolah tidak pernah membawa uang lebih selain untuk ongkos ke sekolah, jadi kalau lapar ya mencari sesuatu yang bisa dimakan. Walaupun terkadang kami kena teguran dari pemilik barang tapi pada umumnya kami tidak pernah ketahuan karena kami tidak sembarangan langsung mengambil yang kami inginkan.
Itulah kenangan salah satu bentuk "kenakalan" kami ketika masih bersekolah di SMP Negeri 6 Bandung.

2 komentar:

nanang mengatakan...

Ada sedikit data yang hilang, bro !Pada umumnya kawan-kawanku yang menggunakan jasa KA khususnya dari jurusan Cicalengka, jika turun dari gerbong penumpang mereka mengawali ritualnya dengan "ngagibrig-gibrig" badan sekaligus "kekebut" baju dan tas serta "ngusap beungeut" membersihkan "mehong" dampak dari "haseup" cerobong KA. Begitukah ?

AKI-G@UL mengatakan...

He he he ..... Betul sekali kang, KA komuter saat itu masih menggunakan lokomotif uap dan gerbong nya juga yang bordesnya terbuka jadi para penumpangnya sudah bisa dipastikan akan pada kotor baju dan badannya kalau tidak berada di dalam gerbong tks

Posting Komentar